Kamis, 11 Oktober 2018

TEORI  DAN CONTOH KASUS TRADISI RETORIKA


Komunikasi merupakan salah satu dari berbagai ilmu yang dapat dipelajari. Banyak pengertian dari ilmu komunikasi yang dijelaskan oleh para ahli, salah satunya adalah menurut rogers & d. Lawrence kincaid, 1981, yaitu “komunikasi adalah suatu proses dimana dua orang atau lebih membentuk atau melakukan pertukaran informasi dengan satu sama lainnya, yang pada gilirannya akan tiba pada saling pengertian yang mendalam.” (pengantar ilmu komunikasi, 1998, hal 20, prof. Dr. Hafied cangara, m. Sc.)
Sedangkan dari pengertian tersebut, terdapat dasar-dasar teori komunikasi yang memiliki kesamaan, sehingga dapat dikelompokkan menjadi tujuh teori tradisi komunikasi, dimana tradisi komunikasi tersebut ditemukan oleh Robert T. Craig (1999). Satu dari tujuh tradisi komunikasi itu adalah Tradisi Retorika.
Syafi’ie (1988: 1) menyatakan secara etimologis kata retorika berasal dari bahasa Yunani “Rhetorike” yang berarti seni kemampuan berbicara yang dimiliki oleh seseorang. Dari definisi tersebut bisa dipahami bahwa teori tradisi retorika merupakan aktivitas manusia dengan bahasanya yang terwujud dalam sebuah kegiatan berkomunikasi. Sedangkan menurut Littlejohn (2011), inti dari tradisi retorika adalah lima hukum retorika atau the five canons of rhetoric  yaitu invention atau penemuan, arragement atau penyusunan, style atau gaya, delivery atau penyampaian, dan juga memory atau peningkatan.
Dari kedua teori tersebut, dapat dijelaskan bahwa Tradisi Retorika merupakan ilmu mengolah kata-kata dengan tujuan mempersuasif atau membujuk, seni membangun argumentasi dan juga seni berbicara melalui pendekatan logis dan juga emosional yang digunakan oleh komunikan untuk mempengaruhi komunikator.  Dengan kata lain, tradisi retorika ini pun dapat diartikan sebagai komunikasi yang menggunakan seni untuk berbicara di depan umum yang menggunakan simbol untuk mempengaruhi lingkungan disekitarnya.
          Di dalam kehidupan sehari-hari, sebenarnya banyak kegiatan yang dapat dijadikan contoh dari teori tradisi Retorika ini. Salah satu contoh kasus dari tradisi Retorika ini misalnya di dalam ranah politik yakni saat pemilihan Gubernur DKI Jakarta di tahun 2017 lalu. Dimana Anies Baswedan dan juga Sadiaga Uno mencalonkan dirinya untuk menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta periode 2017–2022. Anies dan juga Sandi tidak segan untuk berkampanye turun langsung ke kawasan tempat tinggal penduduk Jakarta. Mereka berdua mempromosikan dirinya dan mengatakan akan menjadi pemimpin yang jujur dan terbuka bagi masyarakat, dan salah satu janjinya saat kampanye adalah membuka dan membangun lapangan kerja baru, serta mengaktifkan pos pengembangan kewirausahaan warga. Karena kampanye untuk memilih mereka berdua serta janji-janji yang diberikan oleh Anies dan Sandi, warga pun mempercayai dan berharap akan janji tersebut, sehingga Anies dan Sandi berhasil terpilih menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta.
          Dalam kasus tersebut, sangat jelas bahwa terdapat teori tradisi Retorika ada di kasus kampanye Anies dan Sandi dalam pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta itu karena mereka berkampanye untuk mempengaruhi masyarakat agar memilihnya dan memanfaatkan janjinya sebagai “alat” yang dapat mempengaruhi pemikiran masyarakat, dan membuat masyarakat berharap lebih terhadap apa yang dijanjikan saat Anies dan Sandi berkampanye. Seperti yang dikatakan Aristoteles (dalam Syafi’ie, 1988: 1) memandang retorika sebagai “the facult of seeing in any situation the available means of persuasion”. Menurut pengertian ini, Aristoteles mengartikan retorika adalah kemampuan untuk melihat perangkat alat yang tersedia untuk mempersuasi. Kemampuan melihat dalam pengertian ini ditafsirkan sebagai kemampuan untuk memilih dan menggunakan. Alat perangkat yang tersedia berupa bahasa dan segala aspeknya.
          Dari semua penjelasan teori dan contoh kasus di atas, Anies dan Sandi mampu menyampaikan pesan terhadap masyarakat bahwa mereka dapat menjadi pemimpin yang dapat dipercaya rakyat dan juga memperbaiki segala situasi dan kondisi yang terjadi di Jakarta. Ia menjelaskan dari segi bahasanya dan juga tutur kata demi memikat hati masyarakat. Itulah penjelasan tentang teori tradisi retorik beserta contoh kasusnya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar