TEORI DAN CONTOH
KASUS TRADISI RETORIKA
Komunikasi
merupakan salah satu dari berbagai ilmu yang dapat dipelajari. Banyak
pengertian dari ilmu komunikasi yang dijelaskan oleh para ahli, salah satunya
adalah menurut rogers & d. Lawrence kincaid,
1981, yaitu “komunikasi adalah suatu proses dimana dua orang atau lebih
membentuk atau melakukan pertukaran informasi dengan satu sama lainnya, yang
pada gilirannya akan tiba pada saling pengertian yang mendalam.” (pengantar
ilmu komunikasi, 1998, hal 20, prof. Dr. Hafied cangara, m. Sc.)
Sedangkan dari pengertian tersebut, terdapat dasar-dasar teori komunikasi yang memiliki kesamaan, sehingga dapat dikelompokkan menjadi tujuh teori tradisi komunikasi, dimana tradisi komunikasi tersebut ditemukan oleh Robert T. Craig (1999). Satu dari tujuh tradisi komunikasi itu adalah Tradisi Retorika.
Sedangkan dari pengertian tersebut, terdapat dasar-dasar teori komunikasi yang memiliki kesamaan, sehingga dapat dikelompokkan menjadi tujuh teori tradisi komunikasi, dimana tradisi komunikasi tersebut ditemukan oleh Robert T. Craig (1999). Satu dari tujuh tradisi komunikasi itu adalah Tradisi Retorika.
Syafi’ie
(1988: 1) menyatakan secara etimologis kata retorika berasal dari bahasa Yunani
“Rhetorike” yang berarti seni
kemampuan berbicara yang dimiliki oleh seseorang. Dari definisi tersebut bisa
dipahami bahwa teori tradisi retorika merupakan aktivitas manusia dengan
bahasanya yang terwujud dalam sebuah kegiatan berkomunikasi. Sedangkan menurut Littlejohn (2011), inti dari tradisi
retorika adalah lima hukum retorika atau the
five canons of rhetoric yaitu invention atau penemuan, arragement atau penyusunan, style atau gaya, delivery atau penyampaian, dan juga memory atau peningkatan.
Dari kedua teori
tersebut, dapat dijelaskan bahwa Tradisi Retorika merupakan ilmu mengolah
kata-kata dengan tujuan mempersuasif atau membujuk, seni membangun argumentasi
dan juga seni berbicara melalui pendekatan logis dan juga emosional yang
digunakan oleh komunikan untuk mempengaruhi komunikator. Dengan kata lain, tradisi retorika ini pun
dapat diartikan sebagai komunikasi yang menggunakan seni untuk berbicara di
depan umum yang menggunakan simbol untuk mempengaruhi lingkungan disekitarnya.
Di
dalam kehidupan sehari-hari, sebenarnya banyak kegiatan yang dapat dijadikan
contoh dari teori tradisi Retorika ini. Salah satu contoh kasus dari tradisi
Retorika ini misalnya di dalam ranah politik yakni saat pemilihan Gubernur DKI
Jakarta di tahun 2017 lalu. Dimana Anies Baswedan dan juga Sadiaga Uno
mencalonkan dirinya untuk menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta
periode 2017–2022. Anies
dan juga Sandi tidak segan untuk berkampanye turun langsung ke kawasan tempat
tinggal penduduk Jakarta. Mereka berdua mempromosikan dirinya dan mengatakan
akan menjadi pemimpin yang jujur dan terbuka bagi masyarakat, dan salah satu
janjinya saat kampanye adalah membuka dan membangun lapangan kerja baru, serta
mengaktifkan pos pengembangan kewirausahaan warga. Karena kampanye untuk
memilih mereka berdua serta janji-janji yang diberikan oleh Anies dan Sandi,
warga pun mempercayai dan berharap akan janji tersebut, sehingga Anies dan
Sandi berhasil terpilih menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta.
Dalam kasus tersebut, sangat jelas
bahwa terdapat teori tradisi Retorika ada di kasus kampanye Anies dan Sandi
dalam pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta itu karena mereka
berkampanye untuk mempengaruhi masyarakat agar memilihnya dan memanfaatkan
janjinya sebagai “alat” yang dapat mempengaruhi pemikiran masyarakat, dan
membuat masyarakat berharap lebih terhadap apa yang dijanjikan saat Anies dan
Sandi berkampanye. Seperti yang dikatakan Aristoteles (dalam
Syafi’ie, 1988: 1) memandang retorika sebagai “the facult of seeing in any situation the available means of
persuasion”. Menurut pengertian ini, Aristoteles mengartikan retorika
adalah kemampuan untuk melihat perangkat alat yang tersedia untuk mempersuasi.
Kemampuan melihat dalam pengertian ini ditafsirkan sebagai kemampuan untuk
memilih dan menggunakan. Alat perangkat yang tersedia berupa bahasa dan segala
aspeknya.
Dari semua penjelasan teori dan contoh
kasus di atas, Anies dan Sandi mampu menyampaikan pesan terhadap masyarakat
bahwa mereka dapat menjadi pemimpin yang dapat dipercaya rakyat dan juga memperbaiki
segala situasi dan kondisi yang terjadi di Jakarta. Ia menjelaskan dari segi
bahasanya dan juga tutur kata demi memikat hati masyarakat. Itulah penjelasan
tentang teori tradisi retorik beserta contoh kasusnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar